Halaman

Rabu, 12 September 2012

Taman Wisata dan Budaya Kerajaan Sriwijaya


Riwayatmoe Kini, Museum Sepi Pengunjung, Taman Jadi Tempat ABG “Mojok”
Sejak diresmikan Soeharto, 22 Desember 1994 lalu, Taman Wisata dan Budaya Kerajaan Sriwijaya, (dulunya Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya,red) di kawasan Gandus sepertinya tak mendapat respon tinggi dari masyarakat. Pengunjung museum sepi. Yang ramai sekedar kawasan taman yang dijadikan tempat Anak Baru Gede (ABG) untuk mojok dan berpacaran.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Museum merupakan tempat memberikan informasi akurat tentang peninggalan masa lalu. Ini juga yang mendasari didirikanya Taman Wisata dan Budaya Kerajaan Sriwijaya yang khusus memberikan pengetahuan tentang peninggalan serta kebesaran kerajaan Sriwijaya pada abad ke 7 hingga abad 14.

Sayangnya dari sekian banyak situs dan artefak di pajang dalam museum, sepertinya kurang mendapat minat masyarakat. Saat Sumeks Minggu mengunjungi museum, Kamis (7/9) lalu tak terlihat satupun pengunjung.

Seorang wanita bernama Yuli datang menyambut. Setelah membayar uang masuk sebesar Rp2.000, koran ini pun berkeliling. Tidak ada panduan dari seorang quide (pemandu, red) yang biasanya menjelaskan sejarah benda di pajang.

Yuli sendiri, yang berada di front office ternyata sekedar petugas kebersihan. Satu pria lainya, merupakan tenaga keamanan. “Seluruh quidenya lagi keluar mas,” ungkap Yuli kalem.

Meski berupaya menghubungi para quide, sesaat seorang pria datang. Namanya, Martoyib. Hanya saja, pria yang satu ini bukanya seorang quide yang mengetahui seluk beluk benda dalam museum. Ia merupakan staf di bagian TU. Alhasil tak banyak keterangan sejarah didapat.

Cukup banyak prasasti serta situs di pajang. Seperti situs Karang Anyar, Kambang Unglen, Kambang Purun, Kedukan Bukit, Kolam Pinisi, Bukit Siguntang, Talang Kikim, Tanjung Rawa, Talang Tuo serta Telaga Batu.

Sedangkan prasasti seperti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Siddhayattra, Kambang Unglen I dan II, Swarnapattra, Kambang Unglen, Telaga Batu, Karang Brahi, Kota Kapur, Palas Pasemah, Boom Baru, Nalanda, Ligor.

Namun, kebanyakan sekedar replika. Yang asli dibawa di museum pusat Jakarta. Beberapa guci, piring gelas serta gambar menunjukan bukti kebesaran kerajaan Sriwajaya pun terlihat di pajang.

Hanya saja, yang cukup unik hanyalah keberadaan kemudi kapal sepanjang delapan meter. Kemudi ini, terbuat dari kayu unglen. Ditemukan di Lrg kemudi, Sungai Buah, 3 Ilir. Nah, dilihat dari bentuknya yang sangat besar diyakini kemudi tersebut sebagai kemudi kapal beroperasi di lautan atau untuk melanglang samudera.

Ramai Karena Taman Wisata
Pemandangan berbeda didapati koran ini saat melenggok keluar museum. Diluar pagar yang juga masih merupakan areal museum tampak ramai oleh ABG. Para ABG ini, terkadang masih menggunakan seragam SMA, asik kongkow-kongkow bersama. Banyak juga yang berpasangan sembari mojok. Wajar saja, karena di areal museum ini terdapat banyak pohon membuat suasana terkesan teduh.

Nah, keterangan seorang Pedagang Kaki Lima (PKL) di areal tersebut, sore hingga malam hari, makin banyak pasangan yang datang untuk berpacaran. Bedanya, jika sore pasangan duduk di pinggiran jalan bahkan masuk di areal museum, malam mereka masuk di seberang museum.

Areal di seberang museum, dipisahkan sebuah anak sungai termasuk sepi. Kawasan kantor dan juga taman tersebut sejak lima tahun sudah tak berpenghuni. “Dulu sih memang kantor pegawai. Tapi sejak lima tahun kosong. Itulah jadi tempat orang berpacaran,” ungkap PKL tersebut.

Para pedagang sendiri tak ambil pusing dengan kegiatan pasangan tersebut. Entah berbuat mesum atau sekedar ngobrol. Yang pasti, para pedagang kecewa karena saat malam mereka tidak diperbolehkan berjualan.

“Biasanya kalau malam kita bisa berjualan sampe jam 10 malam. Sekarang, oleh pengelola museum, sore kita harus tutup. Padahal, kalau kita jualan malam, kan masih ada lampu penerangan. Sekarang, malam keadaan tambah gelap. Pasangan tambah bebas. Dak ada yang mengawasi,” celetuknya. (wwn)

Written by: samuji, Sumeksminggu.com

0 komentar:

Posting Komentar