Halaman

Kamis, 15 Maret 2012

Sungai Saudagar Kocing, Tapak Sejarah Muslim Tionghoa

BM-1036
SUNGAI Saudagar Kocing merupakan anak Sungai Musi yang memiliki keterkaitan dengan sejarah perkembangan muslim dari Tiongkok di Palembang. Sungai ini berada di kampung 3-4 Ulu Palembang.

Menurut ceritanya, ada tiga pangeran yang berasal dari Tiongkok yang datang ke Palembang, yang beragama Islam, pada saat di Tiongkok berkuasa Dinasti Ming yang mayoritas pemimpinya beragama Islam. Lalu, saat terjadi pemberontakan yang menjatuhkan Dinasti Ming, ketiga pangeran itu lari ke Palembang.

Tiga pangeran atau saudagar itu bernama Kapiten Bela, Kapiten Asing dan Kapiten Bungsu. Kapiten Bungsu meninggal dunia di pulau Kemaro, sebuah delta di sungai Musi, sedangkan Kapiten Bela dan Kapiten Asing menikah dengan perempuan melayu Palembang. Mereka mempunyai anak, cucu, dan keturunan sampai pada keturunan mereka yang bernama Yhu Cing.

Lantaran Yhu Cing kaya raya, dia pun dipanggil saudagar Yhu Cing. Lantaran rumahnya di dekat sebuah anak sungai yang dijadikan dermaga, maka sungai itu pun disebut sungai Saudagar Yhu Cing dan selanjutnya berubah—lantaran lapas Melayu—menjadi Kocing. Saudagar Yhu Cing ini kemudian memiliki anak bernama Jaya Laksana, yang merupakan tokoh penting dalam pembangunan masjid Agung Palembang di masa Sultan Mahmud Badaruddin I.

Demikian diceritakan Ki Agus Muhamad Idris (78), salah satu keturunan saudagar Yhu Cing, yang ditemui di rumahnya, Jalan Jaya Laksana RT.08, No.130, 3 Ulu, Seberang Ulu I, Palembang, belum lama ini.

Namun, sejarah saudagar Yhu Cing ini banyak dikaburkan dengan cerita dari mulut ke mulut di masyarakat bahwa masa lalu banyak warga di sana memelihara kucing, sehingga mereka diberi gelar sebagai saudagar kucing.

Dan, saat ini kondisi sungai Saudagar Kocing cukup memprihatinkan, selain dipenuhi sampah, di muara sungai itu pun dipenuhi oleh tanaman liar enceng gondok dan timbunan serbuk penggergajian kayu.

Berita Musi, 01.08.2011 22:14:18 WIB

3 komentar:

  1. berdasarkan tulisan dlm naskah kitab kuno 1838 M. yg ditulis oleh baba Abdullah (Babah Cek Ola), nama aslinya adalah kampung "sungi Saudagar Kutjing". adalah nama julukan Babah Yaw-jian atau Baba Yu-jin (aksara Arab Melayu: bisa dibaca dua cara). merupakan kampun gedong Batu, pelabuhan kapal penes zaman susuhunan Palembang.Demikian koreksi. Keturunannya sekarang tertulis dlm naskah sebagai Babah/ Baba (lelaki), dan Nona/ Nyonya (perempuanyya). dari Azim Baba. dosen UIN Raden Fatah Palembang.

    BalasHapus
  2. berdasarkan tulisan dlm naskah kitab kuno 1838 M. yg ditulis oleh baba Abdullah (Babah Cek Ola), nama aslinya adalah kampung "sungi Saudagar Kutjing". adalah nama julukan Babah Yaw-jian atau Baba Yu-jin (aksara Arab Melayu: bisa dibaca dua cara). merupakan kampun gedong Batu, pelabuhan kapal penes zaman susuhunan Palembang.Demikian koreksi. Keturunannya sekarang tertulis dlm naskah sebagai Babah/ Baba (lelaki), dan Nona/ Nyonya (perempuanyya). dari Azim Baba. dosen UIN Raden Fatah Palembang.

    BalasHapus
  3. ku Tjing, artinya Seberang Laut, Saudagar Ku Tjing/ Ku Xing, yakni saudagar seberang laut.

    BalasHapus