Halaman

Sabtu, 17 Maret 2012

Sekilas Kerukunan Beragama di Palembang

22832cd7f6c0b94bdfcddf25d8702469
Oleh : TAUFIK WIJAYA*)

SELAIN Aceh, Palembang merupakan daerah awal penyebaran Islam di nusantara. Buktinya, ada raja Sriwijaya yang beragama Islam, lalu tokoh Raden Fatah atau Raden Hasan, merupakan pemimpin besar Islam pada masanya yang berasal dari Palembang, setelah Cheng Ho dari Tiongkok datang bersama duta kebudayaannya, di awal abad ke-15.

Selain itu, pada abad ke-18, Palembang menjadi pusat pendidikan sastra Islam di Nusantara dengan tokohnya Abdul Somad Al-Valembani. Bahkan, Palembang pernah dikuasai oleh kesultanan Palembang memilih ideologi Islam sebagai tuntunan hukumnya yakni di masa Kesultanan Palembang Darussalam

Nah, apakah selama hukum Islam berkuasa di Palembang, para pemeluk keyakinan lain dilarang atau dimusnahkan dari Palembang? Pertanyaan ini memang tidak gampang menjawabnya. Tetapi, berdasarkan catatan sejarah belum pernah ada aksi kekerasan oleh kaum muslim terhadap kelompok nonmuslim, seperti halnya yang kita rasakan di sejumlah daerah selama ini.

Bahkan, para petinggi VOC, yang kebanyakan nonmuslim atau gelombang pelarian warga Tiongkok di awal abad 20, hadir dengan keyakinannya tanpa pernah diganggu kaum muslim di Palembang. Semuanya berjalan damai.

Bukti keselarasan antarumat beragama ini, misalnya dapat kita temukan hingga hari ini di berbagai keluarga maupun kampung di Palembang.

10 Ulu



Kampung 10 Ulu merupakan kampung yang berada di tepi sungai Musi. Sebelum dibangun jembatan Ampera yang mulai beroperasi tahun 1965, 10 ulu merupakan kampung yang harus dilalui warga dari utara Sumatra bila ingin menyeberang ke pulau Jawa.

Saya mengenal kampung ini ketika saya bersahabat dengan almarhum Koko Bae, seorang perupa yang juga penyair.Rumah Koko Bae berada persis di depan Klenteng Kwan Im, yang selalu ramai dikunjungi para penganutnya.

Yang menarik, di rumah milik Koko Bae yang panjangnya sekitar 40 meter itu hidup dengan damai sejumlah keluarga dari berbagai keyakinan agama. Koko Bae dan keluarganya memeluk agama Islam, keluarga adiknya memeluk agama Katolik, sementara orangtuanya beragama Budha. Mereka tidak memiliki persoalan dalam melaksanakan ritual atau melakukan komunikasi. Selalu rukun dan damai.

Bila Natal, rumah itu dipenuhi warga yang merayakan Natal. Idul Fitri, rumah itu dipenuhi orang yang merayakannya. Bahkan, selama bulan puasa, tidak jarang adik Koko Bae yang beragama Katolik membangunkan saur atau sebaliknya, saat berbuka puasa, dia memberikan makanan.

Ternyata, kehidupan rukun beragama dalam satu rumah ini, bukan hanya pada keluarga Koko Bae. Sejumlah keluarga lainnya di 10 Ulu juga berlangsung hal yang sama.

Di sisi lain, Klenteng Kwan Im yang berada di muka rumah Koko Bae, juga banyak dikunjungi warga muslim. Kenapa? Sebab di belakang klenteng itu terdapat makam seorang pemuka agama muslim, yang mana sering diziarahi kaum muslim maupun yang memeluk agama Budha. Tidak di situ saja, sebuah langgar atau masjid kecil yang berada di tepi sungai Musi, masih di 10 Ulu, pembangunannya dibiayai oleh pihak klenteng.

Di Palembang hubungan harmonis antarpemeluk agama ini bukan hanya di 10 Ulu, di kampung lain pun hal itu berlangsung. Banyak keluarga muslim bertetangga dengan keluarga nonmuslim. Mereka hidup harmonis. Tidak sedikit di antara mereka menjalin hubungan keluarga yang lebih jauh, seperti pernikahan atau membangun usaha bisnis secara bersama.

Hubungan harmonis antarpemeluk agama di Palembang memang sudah terbangun berabad-abad lalu. Prinsip mereka, antarpemeluk agama tidak saling mengganggu. Mereka berjalan dengan aktifis ritualnya masing-masing.

Apakah keharmonisan ini akan kita hancurkan? Saya pikir Tuhan menciptakan manusia bukan untuk saling membunuh, justru untuk saling melindungi, dan mengasihi. Dan, saya percaya kondisi yang sama sebetulnya berlangsung di daerah lain di Indonesia

*) Pekerja seni
Beritamusi.com --22.10.2009 10:30:22 WIB

0 komentar:

Posting Komentar